Minggu, 09 Januari 2022

10 Cool Facts About Hugs

 1. Hugging impacts your health, physically and emotionally

            People hug each other in many occasions. They hug in sad time, they hug in happy time to bring more joy. But, do you ever wonder why hug feels good? It’s because hugging releases oxytocin, a hormone that capable of reducing pain and stress, makes human feel connected to each other, and even lowers blood pressure.

Although the magic of hug doesn’t work for everyone, because:

2. In some culture, you can’t just hug anyone

Sometime handshake is preferable.

            In western culture, hugging is common, it is the part of social norms. In eastern culture, you only can hug people who are close to you. Like parents or siblings or same-sex close friends. Easterners are quite sensitive about hugging. If you hug opposite gender who is not relatively close to you, your act may be taken as romantic expression.

 3. Also, not everyone like hugs

            Instead of give them sense of comfort, some people may get irritated. To them, random hug might feels like their private space is being invaded.   

4. A hug normally lasts 9.5 seconds

But there are also hugs that last for eternity.

5. Hugs divided to various styles

There are romantic and also formal hugs. Know the difference.

            It is important to give appropriate hugs according to the event and also whom you hug. Wrong style of hugs may lead to misunderstanding.

6. Do you know that Ahmadinejad criticized for hugging?

            Hugging is not always means simple, kind act. The real example is Ahmadinejad, Iran’s president. He was accused of betraying Islam because expressing condolences in improper way, after photo of him giving a hug to Elena Frias de Chavez emerged.

7. Habbit hugging pillow or stuffed animal while sleeping might tells something about you


Even dog likes to hug stuffed animal.

Some study revealed it might be the sign of missing a certain someone. This habit also indicate the desire to be close to another human being.

8. Hug a tree is actually helpful and healthy, too



Hugging a tree should be a mandatory habit.

Hug-a-Tree and Survive is program designed to teach children basic survival skills if they get lost in the woods. The message Hug-a-Tree trying to tell is “if you are lost, stay put-hug a tree-until help arrives” which means, if you are lost, don’t go any farther, stay safe there and hug your tree (tree is not always a tree, it could be a big rock or bench). This program is known as being helpful to prevent further damage that could be happened during lost.

            Hug a tree, literally, has proven to benefit human’s health, especially on mental illness, concentration levels, and the ability to alleviates headache. Interested to try?

9. Hug kills

Disgusting fact : If you hug someone tightly for a long time, it’s possible for this person to die. It’s an inefficient method of killing, though. Okay, let’s skip this part and move to the last part.      

10. Hug is not forever

            Let’s cherish this short life. Hug your parents, your friends, siblings, or your spouse. Spread the oxytocin. Spread the love!

*sending virtual hugs*

Kamis, 19 Februari 2015

{Review} A Romantic Story about Serena ~ Santhy Agatha




Judul : A Romantic Story About Serena
Penulis : Santhy Agatha
Penerbit : nulisbuku.com
Jumlah halaman : 328
Tahun terbit : 2012
***

            


Saya nggak pernah berpikir untuk menulis review buku semacam ini.
            Serena adalah seorang karyawan di perusahaan yang dimiliki oleh Damian Marcuss. Impiannya sebagai wanita tidak muluk-muluk, ia ingin menikah dengan Rafi, tunangannya dan hidup bahagia bersama seluruh keluarganya. Namun kini Rafi tengah terbaring koma, orangtuanya meninggal, dalam suatu kecelakaan tragis di jalan tol. Kini ia harus hidup seorang diri membiayai dirinya, juga biaya pengobatan Rafi.
            Di sisi lain, Damian, bosnya yang terkenal dingin, hingga ditakuti oleh karyawan-karyawannya, mengincar Serena. Untuk apa? Dijadikan wanita simpanan. Tentu saja Serena menolak, pada mulanya. Namun menjual harga diri menjadi pilihan satu-satunya bagi Serena ketika suatu hari ia membutuhkan uang dalam nominal yang begitu banyak untuk pengobatan Rafi.
            Akhirnya, Serena menjadi wanita simpanan Damian. Lelaki itu menganggapnya wanita pemburu kemewahan, yang rela menjual diri demi memenuhi gaya hidup mewah. Pelacur harus diperlakukan seperti pelacur, mottonya. Namun ketika Damian akhirnya mengetahui jati diri Serena yang sebenarnya, dia tidak bisa mengalihkan hatinya dari wanita itu. Bertepatan dengan itu, Rafi akhirnya sadar dari tidur panjangnya. Serena dihadangkan pada dua pilihan : Rafi, tunangannya yang selama ini ia perjuangkan, atau Damian yang kini tengah memiliki tempat di hatinya?
***

Hal-hal yang mengganggu saya dalam novel ini (selain typo) :

1. Penokohan.
 Karakter Serena kurang kuat, sebagai karakter utama seharusnya penulis menggambarkan Serena luar-dalam dengan sedetil-detilnya. Di dalam novel ini hanya dijelaskan sekilas bahwa Serena adalah gadis mungil berambut pendek. Apa warna mata Serena, warna kulit, bentuk tubuh, selera berpakaian, hingga film kesukaan tidak dijelaskan sama sekali di sini. Pokoknya Serena itu cantik tapi miskin, titik. Lalu apa jabatan Serena di perusahaan Damian, apa iya Serena nggak punya hobi? Selain kurangnya penggambaran tokoh Serena, Serena ini terkesan plin-plan.
Lalu ada tokoh-tokoh yang dihadirkan sekilas dalam buku. Saya kira tokoh-tokoh itu akan berperan besar dalam cerita (seperti Shanon dan laki-laki-yang-hendak-membawa-serena-yang-pingsan-itu-pulang), ternyata di halaman-halaman selanjutnya cerita mengalir begitu saja tanpa kehadiran mereka.
Damian. Saya kira penulis hendak menjabarkan penyakit mental apa yang diidap oleh Damian hingga ia bertingkah seposesif itu terhadap Serena. Di awal cerita Damian ini mengerikan sekali, untuk ukuran saya, sebab dia terobsesi untuk melakukan ‘itu’ setiap hari. Maniak kali ya. Hingga saat Serena baru sembuh dari demam yang sangat-sangat parah, Damian ini tega-teganya begituan sama Serena. Duh.
Vanessa dan Fredy. Saya sempat mengira kedua tokoh ini akan jadian. Wkwk.
2.  Yang aneh adalah, kenapa Serena bisa mendapat uang senilai 340 juta secara cepat ketika memutuskan untuk pergi dari Damian? Kalau bisa dapat pinjaman, kenapa dari awal tidak mencari pinjaman saja, daripada menjual diri pada Damian?
            Lalu, kesembuhan Rafi terasa begitu cepat. Diceritakan ia sudah bisa berjalan setelah beberapa kali terapi. Apa memang bisa secepat itu? Bukankah dahulunya ia koma selama 2 tahun?

            Hal-hal yang saya suka :

1. Penulis berhasil menciptakan chemistry antara Serena dan Damian.
2. Memang penulis tidak berhasil menggambarkan karakter Serena, tapi penulis berhasil menciptakan karakter Damian : laki-laki posesif, dingin, yang kadang-kadang bisa jadi gentleman. Adegan favorit saya adalah ketika Damian mencari Serena ke tiap-tiap rumah sakit, ketika Serena sendiri mematikan ponselnya agar ia bisa menunggui operasi Rafi hingga operasi itu selesai.
3. Meskipun ceritanya klise dan mudah ditebak, kisah Serena-Damian ini meninggalkan kesan manis setelah tuntas membaca.
***

Catatan untuk pembaca :

            Saya berkeyakinan kuat, bahwa seorang feminis pasti akan sangat tidak setuju dengan keputusan-keputusan yang Serena ambil. Serena memutuskan untuk menjual dirinya? Oke, itu keputusan pribadi Serena. Tapi kadang-kadang Serena tampak tak memiliki kontrol atas dirinya sendiri. Ia membiarkan dirinya dikuasai sepenuhnya oleh Damian, meski ia tersiksa. Yang jelas, karakter Serena atau Damian ini tidak untuk ditiru.


            2,5 bintang untuk Damian yang posesif!

{Review} Touchė ~ Windhy Puspitadewi



Judul : Touche
Penulis : Windhy Puspitadewi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jml Halaman : 208
Tahun terbit : 2011
***

Touche adalah sebuah novel remaja yang menyuguhkan cerita yang berbeda dari novel-novel remaja lainnya. Touche sendiri adalah sebutan untuk orang-orang yang memiliki kekuatan khusus yang berhubungan dengan sentuhan. Cerita diawali dengan  Riska, yang dapat merasakan perasaan orang lain yang disentuhnya. Hal itulah yang membuat Riska memakai sarung tangan setiap harinya, sebab merasakan perasaan orang lain itu tidak selalu menyenangkan. Lalu ada Indra, pembaca pikiran; dan Dani, yang menyerap segala informasi dari buku dengan hanya menyentuh buku tersebut.
Ketiga touché ini kebetulan bersekolah di SMA yang sama. Suatu hari Pak Yunus, seorang guru musik baru datang dan mempertemukan mereka bertiga, yang sebelumnya tak mengenal satu sama lain. Pak Yunus, yang ternyata seorang touché juga (dengan kemampuan) membawa kabar buruk, selain informasi mengenai kaum touché, yakni penculikan terhadap kaum touché yang terjadi baru-baru ini. Dan penculik kaum touché ini disinyalir telah berada di Indonesia.
Keempat touché ini berada dalam bahaya. Mampukah mereka melindungi satu sama lain? Dengan Indra yang dingin nan angkuh, Dani yang berpembawaan riang dan cerdas itu, Riska yang sensitif, dan Pak Yunus yang tampaknya memiliki begitu banyak rahasia.
***
Windhy Puspitadewi adalah penulis yang benar-benar tahu cara membangun konflik dan ketegangan tanpa membuatnya terasa berlebihan.

Hal yang sedikit mengganggu dalam buku ini :

1. Saya merasa penulisan adegan di awal cerita –Riska kecil hilang di pasar, lalu ditolong seorang bocah laki-laki – kurang natural. Entahlah, saya merasa tanpa ada kejadian di masa lalu itu, Indra masih tetap bisa berteman dengan Riska.
2. Penokohan. Menurut saya karakter Riska kurang begitu jelas di awal-awal cerita. Saya bingung, cewek seperti apa sih Riska ini? Namun akhirnya saya mendapat jawaban setelah cerita hampir menuju akhir. Lalu, di awal cerita juga, saya sempat kebingungan membedakan Dani dan Indra. Karakter Indra yang super dingin itu tidak nampak di awal cerita.
3. Selain itu fakta, bahwa ketiga touché yang katanya sangat langka dan hanya ada 1 jenisnya di tiap generasi, terasa begitu aneh karena ketiga touché ini bertemu dalam 1 sekolah di Surabaya. Duh, kebetulan yang sangat kebetulan. Meski tidak mengurangi kesenangan membaca sih.
4. Saya terganggu dengan penggunaan bahasa Inggris-Indonesia –nya Pak Yunus. Okelah, dia diceritakan pernah tinggal di luar negeri. Akan lebih nyaman lagi bagi pembaca, apabila penggunaan bahasa Inggris itu tidak dicampur dalam satu kalimat dengan bahasa Indonesia. Kalau memakai bahasa Inggris, sekalian saja satu kalimat memakai bahasa Inggris. Kalau dalam satu kalimat menggunakan bahasa campur-campur, selain mengganggu, malah menimbulkan kesan amatir.
5. Penamaan tokoh. Yunus King ? Huh, sebenarnya tidak masalah juga sih. :P

Hal-hal yang saya suka dari novel ini :

1. Penggunaan gaya bahasa yang seperti ‘novel terjemahan’. Yang dimaksud di sini adalah penggunaan ‘aku-kau’ yang biasa ditemui dalam dialog novel terjemahan. Benar, ini novel lokal. Tapi terlepas dari bau novel terjemahan itu, penggunaan ‘aku-kau’ lebih cocok digunakan di novel fantasi semacam ini. Kesannya macho. #Apaan
2. Penulis punya bahan dan tampaknya melakukan pengkajian informasi untuk digunakan dalam novel ini.
3. Alurnya cepat, lancar, dan enak diikuti.
4. Endingnya seru.

Saya tetap berpikir alasan Indra untuk melindungi orang-orang yang disayanginya meski dengan cara yang kelewat keras tetap bisa diterima. Kalau dipikirkan mendalam, masuk akal saja apabila Indra melindungi Riska dan Dani sebab mereka membuat Indra merasa berarti. Semua orang butuh merasa berarti kan? Meski penolakan keluarga Indra rasanya terlalu berlebihan.


4 bintang untuk Touche !

Senin, 02 Februari 2015

{Review} Corat-coret di Toilet ~ Eka Kurniawan


Gambar dari sini


Judul : Corat-coret di Toilet
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2014
Jumlah halaman : 125 halaman
***
          Corat-coret di Toilet merupakan kumpulan cerpen karya penulis dari Lelaki Harimau dan Cantik itu Luka, Eka Kurniawan. Buku ini berisi 12 cerpen, diantara 12 cerpen itu ada satu cerpen yang berbau toilet (:p).
          Buku ini memuat cerpen dengan judul-judul berikut :

1. Peter Pan ~ Bukan tentang Peter Pan, bocah kanak-kanak yang menolak tumbuh dewasa itu, temannya Wendy itu… Bukan. Peter Pan ini adalah seorang pejuang revolusi yang beraksi lewat kata-katanya. Sayang berjuta sayang, meski Peter Pan mengorbankan hidupnya demi revolusi itu, kisahnya sendiri berakhir tragis.

2.   Dongeng Sebelum Bercinta ~ “Tapi kita tak akan bercinta sebelum dongengku selesai”(hal.13)

Cerpen ini menggelitik perut saya hahaha. Saya sempat bertanya-tanya kenapa Alamanda menolak bercinta dengan suaminya –dengan jalan membacakan dongeng yang tak kunjung usai? Saya sempat membuat kesimpulan perbuatan itu ia lakukan sebab ia tak mencintai suaminya. Ternyata eh ternyata… Endingnya bagus, tapi saya merasa seharusnya cerpen ini bisa lebih panjanggg. Saya suka karakter Alamanda.

3.   Corat-coret di Toilet         ~ berkisah tentang dinding toilet beserta suara-suara jujur yang tertoreh di sana.

4.   Teman Kencan ~ Ada beberapa kisah tragis/melas laki-laki di kumcer ini. Salah satunya ada di Teman Kencan ini.

“Copot topengmu”, katanya.
Aku balas tertawa dan mengembalikan topeng di tempatnya.
“Kubilang copot topengmu”, ia mengulangi.
“Sudah!”, aku bingung.
Tawanya yang manis kudengar lagi. “Maaf, aku lupa wajahmu sejelek topeng” (hal.36)
5.   Rayuan Dusta untuk Marietje ~ Cerita tanpa konflik (?) tentang tentara Belanda pada masa penjajahan Belanda di Indonesia, nah tentara ini merindukan pacarnya, Marietje yang ada di Belanda sana.

“…,terutama untuk Marietje tersayang yang sudah tak berjerawat dan sedikit agak pintar” (hal.47)

6.   Hikayat Si Orang Gila ~ kisah ini adalah satu dari beberapa kisah dalam Corat-coret di Toilet yang terkadang menelusup masuk ke pikiran ketika saya sibuk, membuat saya berpikir kembali tentang nasibnya. Masalahnya adalah kisah si orang gila ini begitu realistis. Saya tak pernah menyadari sebelumnya, bahwa menjalani peran orang gila ini lebih ‘pedih’ daripada menjalani peran seorang penjahat atau pelacur. Orang gila seperti penonton untuk kehidupan-kehidupan di sekitarnya, padahal ia berada dalam panggung yang sama. Kehadirannya begitu tersisih dan baginya kesempatan adalah satu hal yang sangat mahal…

7.   Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam ~ Cukup banyak loh, cerita tentang perempuan di sini, selain kisah Alamanda tadi. Ada scene yang agak mirip juga berkaitan dengan penolakan dan laki-laki. :p .

8.   Siapa Kirim Aku Bunga? ~ Bisa dikatakan, cerpen ini yang paling sulit untuk saya pahami. Oh mungkin karena otak saya yang masih kecil :V

9.   Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti ~ Pilu, pedih, perih. Pesan yang dibawa cerpen ini menurut saya adalah, bahwasanya tiap orang punya alasan-alasan tersendiri akan tiap perbuatannya. Dan kadang, orang-orang bisa menjadi begitu egois dan tidak peduli. Cerpen ini salah satu yang paling saya ingat.

10.Kisah dari Seorang Kawan ~ Persaingan antara pedagang ‘kecil’ dan besar di pasar. Ketamakan. Beras. Mahasiswa. Oh kumcer ini sangat berbau apa ya? 1998? Im not good in history lesson.

11.Dewi Amor ~ Tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Melasnya lelaki.

12.Kandang Babi ~ Entah bagaimana cerpen ini mengingatkan saya pada video lagu End of Me nya A Day To Remember. Kesan yang saya dapat adalah melakukan hal-hal yang sama, terbuai pada kebiasaan buruk, mengingatkan saya tentang betapa sulitnya untuk berhenti melakukan pola hidup / kebiasaan buruk.

***
Kesimpulan :
Saya mencium bau pemberontakan, protes sosial, realita yang tragis dalam Peter Pan, Corat-coret di Toilet, Siapa Kirim Aku Bunga, Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti,  Kisah dari Seorang Kawan, Hikayat Si Orang Gila, dan Kandang Babi.
Saya mencium kegetiran. Mengapa begitu banyak (banyak itu lebih dari satu :p) tokoh lelaki yang diberi peran begitu melas ? Apalagi dalam Teman Kencan atau Dewi Amor, nasib melas diinjak-injak perempuan itu seperti dialami oleh lelaki jelek. Yah, kebanyakan wanita memang seperti itu, apalagi di zamannya Ganteng-ganteng Sering Gila ini. Melasnya laki-laki itu ‘dibalas’ dengan memelaskan perempuan. Seperti Alamanda yang pernah ditolak dalam Dongeng Sebelum Bercinta dan Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam. Bau sindiran juga dibalaskan lelaki pada sosok Marietje dalam Rayuan Dusta untuk Marietje.
Sebenarnya dari bau-bau karya dari seorang penulis, kita sebagai pembaca bisa mengetahui isu atau topik apa yang penting dan menarik minat penulis. Sehingga secara tak langsung pembaca bisa mempelajari pemikiran serta argumen penulis dalam karya-karyanya. Nah, kumcer ini buku kedua dari Eka Kurniawan yang saya baca. Dan membaca buku-buku beliau merupakan satu pengalaman berharga.

4 bintang untuk toilet dan kandang babi yang bau!
                                                    ***


Melas adalah Bahasa Jawa yang berarti membuat kasihan, membuat orang lain iba, saya tidak menemukan padanan kata yang cocok dalam Bahasa Indonesia. Rasanya kurang bombastis, kurang seru.

Jumat, 23 Januari 2015

{Review} A Walk To Remember (Kan Kukenang Selalu) ~ Nicholas Sparks

Gambar dari Goodreads.

Judul            :        A Walk To Remember (Kan Kukenang Selalu)
Penulis          :        Nicholas Sparkas
Penerbit        :        Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit  :       2002
Jumlah hal.   :       256 halaman

***
Pada tahun 1958, Beaufort di North Carolina, hidup remaja 17 tahun bernama Landon Carter yang badung. Ia beruntung dilahirkan dalam keluarga yang kaya. Meski orang-orang dalam silsilah keluarganya tidak memiliki reputasi yang baik. Apalagi kakeknya itu, yang selalu disinggung dalam khotbah gereja Hegbert Sullivan, pendeta di Beaufort. Ngomong-ngomong Landon lebih suka memanggil orang itu Hegbert, yang merupakan salah satu sasaran favorit kejahilannya semasa kecil. Gara-gara kakeknya dan kebadungannya (makan kacang di pemakaman bersama teman-temannya sambil mengobrolkan hal-hal aneh yang hanya dibicarakan anak laki-laki), reputasi Landon begitu buruk di mata Hegbert.
Awalnya itu bukan masalah. Penilaian Hegbert mengenai dirinya benar-benar tidak penting bagi Landon hingga akhirnya Landon jatuh cinta pada putri semata wayang Hegbert, Jamie Sullivan.
Jamie Sullivan, yang disukai orang-orang dewasa karena kesopanan dan kebaikan hatinya namun terlalu aneh bagi anak-anak di sekolahnya, entah dengan caranya sendiri membuat Landon mau mengikuti pementasan drama untuk natal. Jamie mampu membuat Landon yang badung itu ikut berpartisipasi dalam pengumpulan dana untuk anak-anak panti asuhan di kota mereka. Jamie membuat Landon mau berhadapan dengan Hegbert dengan penuh tata karma kali ini. Jamie membuat Landon berpikir ulang mengenai hidup dan tingkah lakunya selama ini. Singkatnya Jamie membuat Landon semakin dewasa.
Namun di saat Landon benar-benar mencintai Jamie, bagaimanakah perasaan Jamie terhadap Landon? Akankah cerita mereka direstui Hegbert? Akankah mereka berakhir bahagia?
***
Ini adalah novel karangan Nicholas Sparks yang pertama kali saya baca. Sebetulnya saya agak terlambat mendapatkannya. Pertama kali tahu novel ini dari penggalan-penggalan ceritanya yang tersisip di buku Bahasa Indonesia SMP kelas 7. Saat itu saya masih berumur 11 tahun, yang memungkinkan saya jatuh cinta dengan dialog-dialognya, toh saya masih  terbayang-bayang hingga ‘dewasa’ :p.
A Walk to Remember adalah novel remaja yang bagus untuk dinikmati sebab karakter-karakternya bisa dijadikan panutan layaknya Jamie. Jamie adalah gadis yang percaya diri tanpa polesan make up dan semprotan parfum, penampilannya sederhana. Ia tidak merasa perlu meladeni pendapat orang-orang tentang dirinya dan menghadapi segala sesuatu dengan caranya yang polos nan ajaib. Bahkan saya terkagum-kagum dengan sosoknya, padahal biasanya saya tidak suka karakter yang sangat sempurna. Namun kesempurnaan Jamie ini sebenarnya tampak dari luar saja, dalam beberapa dialognya dengan Landon, pembaca bisa mengetahui bahwa Jamie juga punya ketakutan, rasa sakit, bahkan terkadang Jamie ditampilkan sebagai wanita yang cerdik meski tetap polos dan anggun. Pembawaannya yang polos dan ceria itu sungguh seperti malaikat. Apalagi Jamie digambarkan sebagai gadis yang cukup religius.
Selain Jamie, saya juga suka tokoh Hegbert alias ayah Jamie. Di balik sikapnya pada Landon yang sedikit menyebalkan, bisa dibilang Hegbert ini adalah tokoh ayah idaman. Tidak sempurna, tapi penuh kasih sayang dan perlindungan. ^^
Perubahan sikap Landon pun terasa natural. Segalanya dibawakan dengan baik oleh penulis. Alurnya tidak bertele-tele, saya kesulitan mencari kekurangan dalam novel ini, selain ending-nya mungkin yang menurut saya bisa dieksekusi dengan lebih baik lagi. Karena seperti dalam prolog Landon, saya pun tersenyum saat mengawali membaca kisahnya, namun saya gagal menangis di akhir cerita. Dan saya tahu kenapa. Mungkin karena saya sudah 17 tahun dan kebal terhadap segala sesuatu yang mengharu biru.

3,5 bintang untuk Jamie Sullivan! 

Kamis, 22 Januari 2015

First Chapters Commentator "Ally : All These Lives"~Arleen A


Cerita dimulai dengan tragedi. Ally berusai 10 tahun saat pertama kali mengalami sebuah kejadian yang ia sebut Saat Ketidakberadaan. Ally yang merupakan anak tunggal sedang duduk di dapur saat itu, menunggui Mama yang sedang memasak kue kering cokelat, ketika ada sensasi gelitik yang aneh pada lengan dan wajahnya. Kemudian dunia menghilang, termasuk dirinya sendiri, tidak bisa melihat apa-apa, bahkan tidak ada kegelapan. Yang ada hanya pikiran Ally beserta kesadarannya. Ketika dunia kembali dalam hadapannya, dia sedang berada di tempat yang sama, duduk di dapur, menunggui Mama. Tapi kali ini tidak ada kue kering coklat beserta aromanya, melainkan sup tomat dan makaroni. Dan, di sebelahnya duduk anak laki-laki berambut merah bernama Albert yang kata Mama merupakan adiknya. Tentu fakta ini mengejutkan Ally, dalam pikirannya ia merupakan anak tunggal. Karena tidak adanya penjelasan dan jawaban yang memuaskan dari psikiater, orangtua Ally mulai menerima bahwa Ally lupa segala hal tentang adiknya.

“Namun bagaimana aku bisa melupakan sesuatu yang tadinya tidak ada sama sekali?” ~ hal 10.
         
          Ally memilih melanjutkan hidupnya dan menerima fakta bahwa ia memiliki Albert. Lagipula siapa yang dapat menolak Albert? Anak laki-laki berambut merah dengan senyum manis yang lebar. Tidak ada kakak yang dapat menolak Albert. Pun Ally, meski ia tidak dapat mengingat 5 tahun pertama kebersamaannya dengan Albert.
          Lalu Ketidakberadaan menimpa Ally lagi, yang saat itu duduk di bangku SMA. Apabila dahulu Ketidakberadaan menghadirkan Albert dalam hidupnya, kali ini ia merenggut Albert darinya. Nyatanya Albert sudah meninggal. Entah kapan dan bagaimana Ally tak mampu mengingatnya. Kali ini benak Ally terguncang, atas Saat Ketidakberadaan-nya yang menghadirkan dan merenggut seseorang dalam hidup Ally seenaknya.  

***

          Saya sangat, sangat antusias dengan novel karya Arleen A ini. Biasanya saya berusaha untuk mengosongkan ‘cangkir’ saya sebelum membaca, membersihkannya dari ekspetasi-ekspetasi dan penilaian apapun. Dengan begitu, saya bisa menerima apa yang ditawarkan penulis dalam karyanya dengan baik.
          Saya remaja berusia 17 tahun, dan untuk alasan itu, bacaan ini cocok untuk saya. Saya pikir tidak ada yang lebih baik daripada penilaian sebuah novel remaja dari kaum remaja itu sendiri. Kami remaja bosan dengan novel percintaan yang selalu berakhir bahagia, kami punya selera. Remaja juga memiliki mimpi dan kecemasan tentang kewarasan diri mereka sendiri.
Selama beberapa tahun pengalaman saya membaca, saya belum pernah menemui novel remaja dengan tema thriller psikologi (Saya dengan entengnya menyimpulkan bahwa ini adalah novel bergenre thriller psikologi ---__---). Saya pernah membaca novel “In The Miso Soup” karya Murakami. Kebanyakan novel thriller psikologi menggunakan hal-hal di luar pikiran tokoh utama untuk menciptakan efek terguncang. Namun berbeda dengan Ally : All These Lives ini.
Di halaman pertama, pembaca disuguhi dengan tragedy, yang merupakan langkah efektif untuk membuat pembaca penasaran dengan jalan cerita selanjutnya. Selama proses membaca selanjutnya, saya menikmati kata-kata yang diuntai oleh penulis dengan sederhana namun manis. Entah bagaimana, di beberapa titik saya merasa kehidupan Ally begitu sedih. Karakter Ally sebagai remaja sederhana dengan keluarga biasa membuat pembaca bisa dengan mudah memposisikan dirinya di posisi Ally, juga merasakan emosi-emosi Ally.
Latar cerita yang mengambil setting yang tidak nyata atau berdasar rekaan penulis juga turut membangun suasana yang dingin. Seperti, kehidupan Ally memiliki temboknya tersendiri, Ally hidup di dunianya sendiri nun jauh di sana. Namun dengan cara yang sama, seperti deskripsi tentang aroma kue coklat kering dan sup tomat membuat kehidupannya terasa dekat, intim.
Lalu bab 2 berakhir, saya terpaku di depan layar laptop. Cerita Ally tidak berhenti sampai di sini, saya berpikir. Terbayang-bayang, bagaimana kehidupan Ally selanjutnya? Apakah sebenarnya sesuatu yang ia sebut Saat Ketidakberadaan itu? Kenapa dan bagaimana Albert mati? Apakah Ally bisa hidup normal?  
Kebingungan, kesedihan Ally saat kehilangan Albert, bercampur teka-teki akan apa yang terjadi pada dirinya itu menghantui saya. Saya sempat berasumsi bahwa Ally mungkin menderita skizofernia, tapi saya kira itu tidak mungkin, sebab ia tidak kehilangan 5 tahun kehidupannya. Ia hanya lupa tentang Albert. Kemudian saya menebak kemungkinan Ally mengalami semacam trauma untuk hal-hal yang baru, namun lagi-lagi asumsi itu tidak memuaskan saya. Saya butuh membaca lanjutan kisah Ally, saya butuh mengetahui apa yang terjadi padanya, apakah Saat Ketidakberadaan itu. Saya butuh menyelesaikan kisah yang telah membuka rasa penasaran saya.
         Saya butuh. Benar-benar butuh. Apa perlu saya tekankan lagi? *Hehehe. 

***

Rabu, 07 Januari 2015

{Review} If I Stay ~ Gayle Forman


Lebih suka cover atas hehe :p


Judul : If I Stay
Penulis : Gayle Forman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2011
ISBN : 9789792266603
Jumlah halaman : 200 halaman

***

Saya pernah membayangkan tentang kematian. Semua orang pasti pernah. Mia Hall, gadis berusia 17 tahun (sama kayak aku hoho) pun pasti pernah. Tapi, pernahkah kau memikirkan apa yang akan kau lakukan apabila kau berada begitu dekat dengan kematian?
Mari melihat dengan lebih dekat.
Hidup Mia Hall tidak sempurna. Tapi dia punya Mum dan Dad, lalu adik kecilnya, Teddy yang selalu ada di sampingnya dan mendukung kecintaannya pada dunia musik. Mia memiliki Kim, sahabat karibnya yang bercita-cita sebagai fotografer. Terlepas dari konyolnya hal-hal yang mereka alami sebelum keduanya bersahabat, Kim selalu ada untuk Mia. Mereka memiliki satu sama lain. Berbeda, namun saling melengkapi. Lalu Adam, pacarnya yang main di band Shooting Star, yang mengenalkan warna-warna baru dalam hidup Mia.
Justru di saat ia hendak mengejar mimpinya, bersekolah di universitas musik terkenal di New York, satu insiden menyakitkan harus memutus impiannya itu. Mia dan keluarganya mengalami kecelakaan mobil di satu hari bersalju. Mum, Dad, dan Teddy meninggal dalam kecelakaan itu, kecuali Mia. Dia tidak benar-benar mati tapi juga tidak hidup, arwahnya melayang-layang di luar tubuhnya yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Seperti koma, begitulah.
Di saat dirinya menjadi satu-satunya yang tersisa dari keluarganya, Mia Arwah ini menyaksikan keluarganya : Gran dan Gramps, bibi, paman, sahabatnya Kim, serta pacarnya Adam bersedih menantinya kembali sadar. Orang-orang terdekatnya meminta Mia untuk tinggal, tetap berjuang, hidup, meski itu artinya Mia harus menjadi yatim piatu. Tapi bahkan Mia tidak tahu caranya untuk kembali bersatu dengan raganya. Kilasan-kilasan momen yang pernah Mia alami akhirnya muncul, dan momen-momen itu melibatkan orang-orang terdekatnya. Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit, untuk tetap tinggal atau pergi.
Pilihan. Kadang kau harus memilih. Termasuk Mia ini. Tapi bagaimana bila pilihanlah yang memilih Mia?
***
Sudah sejak lama saya tahu novel If I Stay ini baik dari Goodreads maupun dari blogger buku. Rata-rata mereka terharu dan sampai menangis membaca novel ini. Tapi entah bagaimana, kisah Mia ini tidak membuat saya tersentuh.
Di awal cerita, digambarkan keluarga Mia yang sempurna, Mia yang mahir bermain cello, Mia tipe gadis yang tidak populer di sekolah namun punya sahabat, Mia yang berpacaran dengan Adam yang juga punya talenta musik yang luar biasa juga.
Kehidupan Mia mulus, sempurna. Menurut saya. Dan saya kira, remaja-remaja 17 tahun lainnya akan menemukan kemiripan antara Mia dengan dirinya. Dengan kata lain, karakter Mia ini bisa ditemukan di kehidupan nyata (meskipun tidak dengan pacarnya). Dan penokohan Mia ini yang saya sukai dari novel ini. Innocent.
Tapi tetap ada hal-hal yang too good to be true seperti keluarganya yang sempurna ini lalu pacar yang sempurna juga. Entahlah :/ Im speechless. Sulit mengungkapkan mengapa saya tidak terlalu menyukai novel ini. Terlalu datar? Terlalu sempurna?
Meski gaya menulis Gayle Forman ini halus dan nikmat untuk dinikmati hingga kesetiap bagian-bagian terkecilnya. Alur Flashback yang digunakan berhasil, dengan begini setelah menye-menye membaca adegan di rumah sakit, pembaca disuguhi momen-momen manis dalam hidup Mia. Penulis juga berhasil membangun keluarga yang harmonis (hangat) dalam ceritanya.

Tentu, saya akan tetap membaca Where She Went. Tapi entah kapan (soalnya punya Where She Went yang bahasa inggris aja -_-). Tapi tetap saja, karena novel ini curang pada saya (dengan membuat orang lain menikmatinya hingga jatuh air mata, tapi tidak untuk saya), saya beri 3,5/5 bintang untuk Mia dan Adam, pasangan idaman! :p

***
Quotes yang kuambil dari Goodreads.
“Sometimes you make choices in life and sometimes choices make you.” 
“I realize now that dying is easy. Living is hard.”