Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Februari 2015

{Review} A Romantic Story about Serena ~ Santhy Agatha




Judul : A Romantic Story About Serena
Penulis : Santhy Agatha
Penerbit : nulisbuku.com
Jumlah halaman : 328
Tahun terbit : 2012
***

            


Saya nggak pernah berpikir untuk menulis review buku semacam ini.
            Serena adalah seorang karyawan di perusahaan yang dimiliki oleh Damian Marcuss. Impiannya sebagai wanita tidak muluk-muluk, ia ingin menikah dengan Rafi, tunangannya dan hidup bahagia bersama seluruh keluarganya. Namun kini Rafi tengah terbaring koma, orangtuanya meninggal, dalam suatu kecelakaan tragis di jalan tol. Kini ia harus hidup seorang diri membiayai dirinya, juga biaya pengobatan Rafi.
            Di sisi lain, Damian, bosnya yang terkenal dingin, hingga ditakuti oleh karyawan-karyawannya, mengincar Serena. Untuk apa? Dijadikan wanita simpanan. Tentu saja Serena menolak, pada mulanya. Namun menjual harga diri menjadi pilihan satu-satunya bagi Serena ketika suatu hari ia membutuhkan uang dalam nominal yang begitu banyak untuk pengobatan Rafi.
            Akhirnya, Serena menjadi wanita simpanan Damian. Lelaki itu menganggapnya wanita pemburu kemewahan, yang rela menjual diri demi memenuhi gaya hidup mewah. Pelacur harus diperlakukan seperti pelacur, mottonya. Namun ketika Damian akhirnya mengetahui jati diri Serena yang sebenarnya, dia tidak bisa mengalihkan hatinya dari wanita itu. Bertepatan dengan itu, Rafi akhirnya sadar dari tidur panjangnya. Serena dihadangkan pada dua pilihan : Rafi, tunangannya yang selama ini ia perjuangkan, atau Damian yang kini tengah memiliki tempat di hatinya?
***

Hal-hal yang mengganggu saya dalam novel ini (selain typo) :

1. Penokohan.
 Karakter Serena kurang kuat, sebagai karakter utama seharusnya penulis menggambarkan Serena luar-dalam dengan sedetil-detilnya. Di dalam novel ini hanya dijelaskan sekilas bahwa Serena adalah gadis mungil berambut pendek. Apa warna mata Serena, warna kulit, bentuk tubuh, selera berpakaian, hingga film kesukaan tidak dijelaskan sama sekali di sini. Pokoknya Serena itu cantik tapi miskin, titik. Lalu apa jabatan Serena di perusahaan Damian, apa iya Serena nggak punya hobi? Selain kurangnya penggambaran tokoh Serena, Serena ini terkesan plin-plan.
Lalu ada tokoh-tokoh yang dihadirkan sekilas dalam buku. Saya kira tokoh-tokoh itu akan berperan besar dalam cerita (seperti Shanon dan laki-laki-yang-hendak-membawa-serena-yang-pingsan-itu-pulang), ternyata di halaman-halaman selanjutnya cerita mengalir begitu saja tanpa kehadiran mereka.
Damian. Saya kira penulis hendak menjabarkan penyakit mental apa yang diidap oleh Damian hingga ia bertingkah seposesif itu terhadap Serena. Di awal cerita Damian ini mengerikan sekali, untuk ukuran saya, sebab dia terobsesi untuk melakukan ‘itu’ setiap hari. Maniak kali ya. Hingga saat Serena baru sembuh dari demam yang sangat-sangat parah, Damian ini tega-teganya begituan sama Serena. Duh.
Vanessa dan Fredy. Saya sempat mengira kedua tokoh ini akan jadian. Wkwk.
2.  Yang aneh adalah, kenapa Serena bisa mendapat uang senilai 340 juta secara cepat ketika memutuskan untuk pergi dari Damian? Kalau bisa dapat pinjaman, kenapa dari awal tidak mencari pinjaman saja, daripada menjual diri pada Damian?
            Lalu, kesembuhan Rafi terasa begitu cepat. Diceritakan ia sudah bisa berjalan setelah beberapa kali terapi. Apa memang bisa secepat itu? Bukankah dahulunya ia koma selama 2 tahun?

            Hal-hal yang saya suka :

1. Penulis berhasil menciptakan chemistry antara Serena dan Damian.
2. Memang penulis tidak berhasil menggambarkan karakter Serena, tapi penulis berhasil menciptakan karakter Damian : laki-laki posesif, dingin, yang kadang-kadang bisa jadi gentleman. Adegan favorit saya adalah ketika Damian mencari Serena ke tiap-tiap rumah sakit, ketika Serena sendiri mematikan ponselnya agar ia bisa menunggui operasi Rafi hingga operasi itu selesai.
3. Meskipun ceritanya klise dan mudah ditebak, kisah Serena-Damian ini meninggalkan kesan manis setelah tuntas membaca.
***

Catatan untuk pembaca :

            Saya berkeyakinan kuat, bahwa seorang feminis pasti akan sangat tidak setuju dengan keputusan-keputusan yang Serena ambil. Serena memutuskan untuk menjual dirinya? Oke, itu keputusan pribadi Serena. Tapi kadang-kadang Serena tampak tak memiliki kontrol atas dirinya sendiri. Ia membiarkan dirinya dikuasai sepenuhnya oleh Damian, meski ia tersiksa. Yang jelas, karakter Serena atau Damian ini tidak untuk ditiru.


            2,5 bintang untuk Damian yang posesif!

{Review} Touchė ~ Windhy Puspitadewi



Judul : Touche
Penulis : Windhy Puspitadewi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jml Halaman : 208
Tahun terbit : 2011
***

Touche adalah sebuah novel remaja yang menyuguhkan cerita yang berbeda dari novel-novel remaja lainnya. Touche sendiri adalah sebutan untuk orang-orang yang memiliki kekuatan khusus yang berhubungan dengan sentuhan. Cerita diawali dengan  Riska, yang dapat merasakan perasaan orang lain yang disentuhnya. Hal itulah yang membuat Riska memakai sarung tangan setiap harinya, sebab merasakan perasaan orang lain itu tidak selalu menyenangkan. Lalu ada Indra, pembaca pikiran; dan Dani, yang menyerap segala informasi dari buku dengan hanya menyentuh buku tersebut.
Ketiga touché ini kebetulan bersekolah di SMA yang sama. Suatu hari Pak Yunus, seorang guru musik baru datang dan mempertemukan mereka bertiga, yang sebelumnya tak mengenal satu sama lain. Pak Yunus, yang ternyata seorang touché juga (dengan kemampuan) membawa kabar buruk, selain informasi mengenai kaum touché, yakni penculikan terhadap kaum touché yang terjadi baru-baru ini. Dan penculik kaum touché ini disinyalir telah berada di Indonesia.
Keempat touché ini berada dalam bahaya. Mampukah mereka melindungi satu sama lain? Dengan Indra yang dingin nan angkuh, Dani yang berpembawaan riang dan cerdas itu, Riska yang sensitif, dan Pak Yunus yang tampaknya memiliki begitu banyak rahasia.
***
Windhy Puspitadewi adalah penulis yang benar-benar tahu cara membangun konflik dan ketegangan tanpa membuatnya terasa berlebihan.

Hal yang sedikit mengganggu dalam buku ini :

1. Saya merasa penulisan adegan di awal cerita –Riska kecil hilang di pasar, lalu ditolong seorang bocah laki-laki – kurang natural. Entahlah, saya merasa tanpa ada kejadian di masa lalu itu, Indra masih tetap bisa berteman dengan Riska.
2. Penokohan. Menurut saya karakter Riska kurang begitu jelas di awal-awal cerita. Saya bingung, cewek seperti apa sih Riska ini? Namun akhirnya saya mendapat jawaban setelah cerita hampir menuju akhir. Lalu, di awal cerita juga, saya sempat kebingungan membedakan Dani dan Indra. Karakter Indra yang super dingin itu tidak nampak di awal cerita.
3. Selain itu fakta, bahwa ketiga touché yang katanya sangat langka dan hanya ada 1 jenisnya di tiap generasi, terasa begitu aneh karena ketiga touché ini bertemu dalam 1 sekolah di Surabaya. Duh, kebetulan yang sangat kebetulan. Meski tidak mengurangi kesenangan membaca sih.
4. Saya terganggu dengan penggunaan bahasa Inggris-Indonesia –nya Pak Yunus. Okelah, dia diceritakan pernah tinggal di luar negeri. Akan lebih nyaman lagi bagi pembaca, apabila penggunaan bahasa Inggris itu tidak dicampur dalam satu kalimat dengan bahasa Indonesia. Kalau memakai bahasa Inggris, sekalian saja satu kalimat memakai bahasa Inggris. Kalau dalam satu kalimat menggunakan bahasa campur-campur, selain mengganggu, malah menimbulkan kesan amatir.
5. Penamaan tokoh. Yunus King ? Huh, sebenarnya tidak masalah juga sih. :P

Hal-hal yang saya suka dari novel ini :

1. Penggunaan gaya bahasa yang seperti ‘novel terjemahan’. Yang dimaksud di sini adalah penggunaan ‘aku-kau’ yang biasa ditemui dalam dialog novel terjemahan. Benar, ini novel lokal. Tapi terlepas dari bau novel terjemahan itu, penggunaan ‘aku-kau’ lebih cocok digunakan di novel fantasi semacam ini. Kesannya macho. #Apaan
2. Penulis punya bahan dan tampaknya melakukan pengkajian informasi untuk digunakan dalam novel ini.
3. Alurnya cepat, lancar, dan enak diikuti.
4. Endingnya seru.

Saya tetap berpikir alasan Indra untuk melindungi orang-orang yang disayanginya meski dengan cara yang kelewat keras tetap bisa diterima. Kalau dipikirkan mendalam, masuk akal saja apabila Indra melindungi Riska dan Dani sebab mereka membuat Indra merasa berarti. Semua orang butuh merasa berarti kan? Meski penolakan keluarga Indra rasanya terlalu berlebihan.


4 bintang untuk Touche !

Senin, 02 Februari 2015

{Review} Corat-coret di Toilet ~ Eka Kurniawan


Gambar dari sini


Judul : Corat-coret di Toilet
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2014
Jumlah halaman : 125 halaman
***
          Corat-coret di Toilet merupakan kumpulan cerpen karya penulis dari Lelaki Harimau dan Cantik itu Luka, Eka Kurniawan. Buku ini berisi 12 cerpen, diantara 12 cerpen itu ada satu cerpen yang berbau toilet (:p).
          Buku ini memuat cerpen dengan judul-judul berikut :

1. Peter Pan ~ Bukan tentang Peter Pan, bocah kanak-kanak yang menolak tumbuh dewasa itu, temannya Wendy itu… Bukan. Peter Pan ini adalah seorang pejuang revolusi yang beraksi lewat kata-katanya. Sayang berjuta sayang, meski Peter Pan mengorbankan hidupnya demi revolusi itu, kisahnya sendiri berakhir tragis.

2.   Dongeng Sebelum Bercinta ~ “Tapi kita tak akan bercinta sebelum dongengku selesai”(hal.13)

Cerpen ini menggelitik perut saya hahaha. Saya sempat bertanya-tanya kenapa Alamanda menolak bercinta dengan suaminya –dengan jalan membacakan dongeng yang tak kunjung usai? Saya sempat membuat kesimpulan perbuatan itu ia lakukan sebab ia tak mencintai suaminya. Ternyata eh ternyata… Endingnya bagus, tapi saya merasa seharusnya cerpen ini bisa lebih panjanggg. Saya suka karakter Alamanda.

3.   Corat-coret di Toilet         ~ berkisah tentang dinding toilet beserta suara-suara jujur yang tertoreh di sana.

4.   Teman Kencan ~ Ada beberapa kisah tragis/melas laki-laki di kumcer ini. Salah satunya ada di Teman Kencan ini.

“Copot topengmu”, katanya.
Aku balas tertawa dan mengembalikan topeng di tempatnya.
“Kubilang copot topengmu”, ia mengulangi.
“Sudah!”, aku bingung.
Tawanya yang manis kudengar lagi. “Maaf, aku lupa wajahmu sejelek topeng” (hal.36)
5.   Rayuan Dusta untuk Marietje ~ Cerita tanpa konflik (?) tentang tentara Belanda pada masa penjajahan Belanda di Indonesia, nah tentara ini merindukan pacarnya, Marietje yang ada di Belanda sana.

“…,terutama untuk Marietje tersayang yang sudah tak berjerawat dan sedikit agak pintar” (hal.47)

6.   Hikayat Si Orang Gila ~ kisah ini adalah satu dari beberapa kisah dalam Corat-coret di Toilet yang terkadang menelusup masuk ke pikiran ketika saya sibuk, membuat saya berpikir kembali tentang nasibnya. Masalahnya adalah kisah si orang gila ini begitu realistis. Saya tak pernah menyadari sebelumnya, bahwa menjalani peran orang gila ini lebih ‘pedih’ daripada menjalani peran seorang penjahat atau pelacur. Orang gila seperti penonton untuk kehidupan-kehidupan di sekitarnya, padahal ia berada dalam panggung yang sama. Kehadirannya begitu tersisih dan baginya kesempatan adalah satu hal yang sangat mahal…

7.   Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam ~ Cukup banyak loh, cerita tentang perempuan di sini, selain kisah Alamanda tadi. Ada scene yang agak mirip juga berkaitan dengan penolakan dan laki-laki. :p .

8.   Siapa Kirim Aku Bunga? ~ Bisa dikatakan, cerpen ini yang paling sulit untuk saya pahami. Oh mungkin karena otak saya yang masih kecil :V

9.   Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti ~ Pilu, pedih, perih. Pesan yang dibawa cerpen ini menurut saya adalah, bahwasanya tiap orang punya alasan-alasan tersendiri akan tiap perbuatannya. Dan kadang, orang-orang bisa menjadi begitu egois dan tidak peduli. Cerpen ini salah satu yang paling saya ingat.

10.Kisah dari Seorang Kawan ~ Persaingan antara pedagang ‘kecil’ dan besar di pasar. Ketamakan. Beras. Mahasiswa. Oh kumcer ini sangat berbau apa ya? 1998? Im not good in history lesson.

11.Dewi Amor ~ Tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Melasnya lelaki.

12.Kandang Babi ~ Entah bagaimana cerpen ini mengingatkan saya pada video lagu End of Me nya A Day To Remember. Kesan yang saya dapat adalah melakukan hal-hal yang sama, terbuai pada kebiasaan buruk, mengingatkan saya tentang betapa sulitnya untuk berhenti melakukan pola hidup / kebiasaan buruk.

***
Kesimpulan :
Saya mencium bau pemberontakan, protes sosial, realita yang tragis dalam Peter Pan, Corat-coret di Toilet, Siapa Kirim Aku Bunga, Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti,  Kisah dari Seorang Kawan, Hikayat Si Orang Gila, dan Kandang Babi.
Saya mencium kegetiran. Mengapa begitu banyak (banyak itu lebih dari satu :p) tokoh lelaki yang diberi peran begitu melas ? Apalagi dalam Teman Kencan atau Dewi Amor, nasib melas diinjak-injak perempuan itu seperti dialami oleh lelaki jelek. Yah, kebanyakan wanita memang seperti itu, apalagi di zamannya Ganteng-ganteng Sering Gila ini. Melasnya laki-laki itu ‘dibalas’ dengan memelaskan perempuan. Seperti Alamanda yang pernah ditolak dalam Dongeng Sebelum Bercinta dan Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam. Bau sindiran juga dibalaskan lelaki pada sosok Marietje dalam Rayuan Dusta untuk Marietje.
Sebenarnya dari bau-bau karya dari seorang penulis, kita sebagai pembaca bisa mengetahui isu atau topik apa yang penting dan menarik minat penulis. Sehingga secara tak langsung pembaca bisa mempelajari pemikiran serta argumen penulis dalam karya-karyanya. Nah, kumcer ini buku kedua dari Eka Kurniawan yang saya baca. Dan membaca buku-buku beliau merupakan satu pengalaman berharga.

4 bintang untuk toilet dan kandang babi yang bau!
                                                    ***


Melas adalah Bahasa Jawa yang berarti membuat kasihan, membuat orang lain iba, saya tidak menemukan padanan kata yang cocok dalam Bahasa Indonesia. Rasanya kurang bombastis, kurang seru.

Jumat, 23 Januari 2015

{Review} A Walk To Remember (Kan Kukenang Selalu) ~ Nicholas Sparks

Gambar dari Goodreads.

Judul            :        A Walk To Remember (Kan Kukenang Selalu)
Penulis          :        Nicholas Sparkas
Penerbit        :        Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit  :       2002
Jumlah hal.   :       256 halaman

***
Pada tahun 1958, Beaufort di North Carolina, hidup remaja 17 tahun bernama Landon Carter yang badung. Ia beruntung dilahirkan dalam keluarga yang kaya. Meski orang-orang dalam silsilah keluarganya tidak memiliki reputasi yang baik. Apalagi kakeknya itu, yang selalu disinggung dalam khotbah gereja Hegbert Sullivan, pendeta di Beaufort. Ngomong-ngomong Landon lebih suka memanggil orang itu Hegbert, yang merupakan salah satu sasaran favorit kejahilannya semasa kecil. Gara-gara kakeknya dan kebadungannya (makan kacang di pemakaman bersama teman-temannya sambil mengobrolkan hal-hal aneh yang hanya dibicarakan anak laki-laki), reputasi Landon begitu buruk di mata Hegbert.
Awalnya itu bukan masalah. Penilaian Hegbert mengenai dirinya benar-benar tidak penting bagi Landon hingga akhirnya Landon jatuh cinta pada putri semata wayang Hegbert, Jamie Sullivan.
Jamie Sullivan, yang disukai orang-orang dewasa karena kesopanan dan kebaikan hatinya namun terlalu aneh bagi anak-anak di sekolahnya, entah dengan caranya sendiri membuat Landon mau mengikuti pementasan drama untuk natal. Jamie mampu membuat Landon yang badung itu ikut berpartisipasi dalam pengumpulan dana untuk anak-anak panti asuhan di kota mereka. Jamie membuat Landon mau berhadapan dengan Hegbert dengan penuh tata karma kali ini. Jamie membuat Landon berpikir ulang mengenai hidup dan tingkah lakunya selama ini. Singkatnya Jamie membuat Landon semakin dewasa.
Namun di saat Landon benar-benar mencintai Jamie, bagaimanakah perasaan Jamie terhadap Landon? Akankah cerita mereka direstui Hegbert? Akankah mereka berakhir bahagia?
***
Ini adalah novel karangan Nicholas Sparks yang pertama kali saya baca. Sebetulnya saya agak terlambat mendapatkannya. Pertama kali tahu novel ini dari penggalan-penggalan ceritanya yang tersisip di buku Bahasa Indonesia SMP kelas 7. Saat itu saya masih berumur 11 tahun, yang memungkinkan saya jatuh cinta dengan dialog-dialognya, toh saya masih  terbayang-bayang hingga ‘dewasa’ :p.
A Walk to Remember adalah novel remaja yang bagus untuk dinikmati sebab karakter-karakternya bisa dijadikan panutan layaknya Jamie. Jamie adalah gadis yang percaya diri tanpa polesan make up dan semprotan parfum, penampilannya sederhana. Ia tidak merasa perlu meladeni pendapat orang-orang tentang dirinya dan menghadapi segala sesuatu dengan caranya yang polos nan ajaib. Bahkan saya terkagum-kagum dengan sosoknya, padahal biasanya saya tidak suka karakter yang sangat sempurna. Namun kesempurnaan Jamie ini sebenarnya tampak dari luar saja, dalam beberapa dialognya dengan Landon, pembaca bisa mengetahui bahwa Jamie juga punya ketakutan, rasa sakit, bahkan terkadang Jamie ditampilkan sebagai wanita yang cerdik meski tetap polos dan anggun. Pembawaannya yang polos dan ceria itu sungguh seperti malaikat. Apalagi Jamie digambarkan sebagai gadis yang cukup religius.
Selain Jamie, saya juga suka tokoh Hegbert alias ayah Jamie. Di balik sikapnya pada Landon yang sedikit menyebalkan, bisa dibilang Hegbert ini adalah tokoh ayah idaman. Tidak sempurna, tapi penuh kasih sayang dan perlindungan. ^^
Perubahan sikap Landon pun terasa natural. Segalanya dibawakan dengan baik oleh penulis. Alurnya tidak bertele-tele, saya kesulitan mencari kekurangan dalam novel ini, selain ending-nya mungkin yang menurut saya bisa dieksekusi dengan lebih baik lagi. Karena seperti dalam prolog Landon, saya pun tersenyum saat mengawali membaca kisahnya, namun saya gagal menangis di akhir cerita. Dan saya tahu kenapa. Mungkin karena saya sudah 17 tahun dan kebal terhadap segala sesuatu yang mengharu biru.

3,5 bintang untuk Jamie Sullivan! 

Rabu, 07 Januari 2015

{Review} If I Stay ~ Gayle Forman


Lebih suka cover atas hehe :p


Judul : If I Stay
Penulis : Gayle Forman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2011
ISBN : 9789792266603
Jumlah halaman : 200 halaman

***

Saya pernah membayangkan tentang kematian. Semua orang pasti pernah. Mia Hall, gadis berusia 17 tahun (sama kayak aku hoho) pun pasti pernah. Tapi, pernahkah kau memikirkan apa yang akan kau lakukan apabila kau berada begitu dekat dengan kematian?
Mari melihat dengan lebih dekat.
Hidup Mia Hall tidak sempurna. Tapi dia punya Mum dan Dad, lalu adik kecilnya, Teddy yang selalu ada di sampingnya dan mendukung kecintaannya pada dunia musik. Mia memiliki Kim, sahabat karibnya yang bercita-cita sebagai fotografer. Terlepas dari konyolnya hal-hal yang mereka alami sebelum keduanya bersahabat, Kim selalu ada untuk Mia. Mereka memiliki satu sama lain. Berbeda, namun saling melengkapi. Lalu Adam, pacarnya yang main di band Shooting Star, yang mengenalkan warna-warna baru dalam hidup Mia.
Justru di saat ia hendak mengejar mimpinya, bersekolah di universitas musik terkenal di New York, satu insiden menyakitkan harus memutus impiannya itu. Mia dan keluarganya mengalami kecelakaan mobil di satu hari bersalju. Mum, Dad, dan Teddy meninggal dalam kecelakaan itu, kecuali Mia. Dia tidak benar-benar mati tapi juga tidak hidup, arwahnya melayang-layang di luar tubuhnya yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Seperti koma, begitulah.
Di saat dirinya menjadi satu-satunya yang tersisa dari keluarganya, Mia Arwah ini menyaksikan keluarganya : Gran dan Gramps, bibi, paman, sahabatnya Kim, serta pacarnya Adam bersedih menantinya kembali sadar. Orang-orang terdekatnya meminta Mia untuk tinggal, tetap berjuang, hidup, meski itu artinya Mia harus menjadi yatim piatu. Tapi bahkan Mia tidak tahu caranya untuk kembali bersatu dengan raganya. Kilasan-kilasan momen yang pernah Mia alami akhirnya muncul, dan momen-momen itu melibatkan orang-orang terdekatnya. Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit, untuk tetap tinggal atau pergi.
Pilihan. Kadang kau harus memilih. Termasuk Mia ini. Tapi bagaimana bila pilihanlah yang memilih Mia?
***
Sudah sejak lama saya tahu novel If I Stay ini baik dari Goodreads maupun dari blogger buku. Rata-rata mereka terharu dan sampai menangis membaca novel ini. Tapi entah bagaimana, kisah Mia ini tidak membuat saya tersentuh.
Di awal cerita, digambarkan keluarga Mia yang sempurna, Mia yang mahir bermain cello, Mia tipe gadis yang tidak populer di sekolah namun punya sahabat, Mia yang berpacaran dengan Adam yang juga punya talenta musik yang luar biasa juga.
Kehidupan Mia mulus, sempurna. Menurut saya. Dan saya kira, remaja-remaja 17 tahun lainnya akan menemukan kemiripan antara Mia dengan dirinya. Dengan kata lain, karakter Mia ini bisa ditemukan di kehidupan nyata (meskipun tidak dengan pacarnya). Dan penokohan Mia ini yang saya sukai dari novel ini. Innocent.
Tapi tetap ada hal-hal yang too good to be true seperti keluarganya yang sempurna ini lalu pacar yang sempurna juga. Entahlah :/ Im speechless. Sulit mengungkapkan mengapa saya tidak terlalu menyukai novel ini. Terlalu datar? Terlalu sempurna?
Meski gaya menulis Gayle Forman ini halus dan nikmat untuk dinikmati hingga kesetiap bagian-bagian terkecilnya. Alur Flashback yang digunakan berhasil, dengan begini setelah menye-menye membaca adegan di rumah sakit, pembaca disuguhi momen-momen manis dalam hidup Mia. Penulis juga berhasil membangun keluarga yang harmonis (hangat) dalam ceritanya.

Tentu, saya akan tetap membaca Where She Went. Tapi entah kapan (soalnya punya Where She Went yang bahasa inggris aja -_-). Tapi tetap saja, karena novel ini curang pada saya (dengan membuat orang lain menikmatinya hingga jatuh air mata, tapi tidak untuk saya), saya beri 3,5/5 bintang untuk Mia dan Adam, pasangan idaman! :p

***
Quotes yang kuambil dari Goodreads.
“Sometimes you make choices in life and sometimes choices make you.” 
“I realize now that dying is easy. Living is hard.” 

Jumat, 26 Desember 2014

{Review} Remember When ~ Winna Efendi


Judul : Remember When : Ketika Kau dan Aku Jatuh Cinta
Penulis : Winna Efendi
Tahun terbit : 2011
Penerbit : Gagas Media
Jumlah halaman : 260 halaman
***
Moses, Ketua OSIS yang nilai rapornya selalu sempurna, bersahabat dengan Adrian, si jago basket yang menjadi idola di sekolah. Persahabatan tidak memilih, ia hanya ada bagi orang-orang yang menghendakinya dan mau mempertahankannya. Contohnya seperti persahabatan Moses dan Adrian, karakter keduanya saling bertolak belakang, namun saling melengkapi.
          Lalu ada Anggia, si cantik yang cukup terkenal di sekolah, yang jago melukis sekaligus disukai banyak cowok. Juga Freya, tipikal kutu buku yang pendiam, yang nilainya mendekati sempurna, yahhh meskipun tidak sesempurna nilai Moses.
          Keempat manusia (cie) itu dipertemukan dalam satu cerita, ketika Moses jatuh cinta pada Freya, Adrian jatuh cinta pada Anggia. Di kelas 1 SMU, Moses dan Adrian mengutarakan perasaan masing-masing, dan…diterima!
          Hubungan keempatnya biasa-biasa saja, mereka sering double date : nongkrong bareng, nonton di bioskop bareng, sampai belajar bareng. Sampai konflik muncul ketika Freya, yang lebih suka memendam perasaan itu merasa tidak puas dengan hubungannya, yang datar-datar saja nyaris tanpa konflik. Ia ingin hubungan seperti Anggia dan Adrian, yang waktu itu jadi favorite couple di sekolah, meledak-ledak, penuh warna. Bukankah cinta selalu seperti itu? pikir Freya saat itu.
          Konflik demi konflik muncul hingga masing-masing dari mereka terluka. Hingga tiba suatu saat ketika masing-masing dari mereka harus memilih : untuk jujur kepada diri sendiri dan dunia, atau berbohong selamanya. Cinta tidak harus memiliki, jujur seringkali membuat banyak pihak tersakiti, namun untuk mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya, yang tanpa pura-pura, seringkali membutuhkan pengorbanan. Kamu hanya perlu memaafkan dan berdamai dengan dirimu sendiri.
***
          Well written, seperti novel Refrain yang sebelumnya saya baca. Hanya saja novel Remember When ini banyak memunculkan ketidaksetujuan dalam diri saya.
          Satu. Saya agak kesal dengan Freya. Kenapa? Karena dia jatuh cinta pada pacar sahabatnya sendiri. Itu masih bisa ditolerir. Tapi melakukan hal-hal yang membuat pacar sahabatmu jatuh cinta padamu itu tidak bisa ditolerir. Menerima seseorang sebagai pacar hanya karena dia baik, bukan karena cinta, itu tidak bisa ditolerir. Yah, meski dia tidak sengaja, mungkin. Tetap saja ada, Freya sedikit menyebalkan.
          Tapi ada satu scene yang saya suka. Yakni, saat Freya dipaksa Anggia untuk potong rambut. Dan…tebak apa gaya rambutnya? Pixie cut! Hell yeah, I envy everyone who has that haircut.
         
 “Aku menatap wajahku sendiri di cermin. Perubahan yang sangat besar. Wajahku yang tirus dengan garis wajah tegas semakin diperjelas dengan potongan rambut pendek. Poni yang biasa kubiarkan menutupi separuh wajah dipangkas pendek, kini menjuntai tipis menutupi dahiku yang lebar. Warna merah gelap juga kontras dengan kulitku yang putih. Aku terlihat seperti makhluk asing. Seseorang yang tidak kukenali. Ini bukan perubahan kecil. Ini salah satu perubahan terbesar dalam hidupku.”~Freya POV
         
 Nggak penting juga sih, but once I had a boyish haircut, not a pixie haircut. And definitely that paragraph describe my feeling when I look for my new haircut in a mirror.

“Hanya ada satu syarat agar bisa populer di sekolah, dan syarat itu adalah: EKSIS.”~Anggia.

Saya akhirnya mengerti kenapa karakter-karakter dalam novel karya Winna Efendi selalu menarik hati saya. Winna Efendi selalu menaruh karakter yang punya passion. Annalise dengan passion terhadap fotografi, Niki dengan musik, dan Anggia dengan seni lukis. Bagi seorang penikmat musik, penggemar fotografi, dan suka menggambar seperti saya, karakter-karakter seperti itu menarik sekali. Karena beberapa kali ada deskripsi khusus mengenai passion-passion itu, yang membuat saya “Wah, gue banget” sehabis membaca bagian-bagian tersebut.
Winna Efendi rupanya gemar mengangkat tema persahabatan ya? Dan gaya penulisannya bagus sekali. segalanya terasa natural, persahabatan Moses dan Adrian sejak kecil. Hingga persahabatan seseorang yang berbeda karakter seperti Anggia dan Freya. Meskipun di dunia nyata persahabatan seperti itu jarang ditemui, ya.   

“When you make decisions, you deal with consequences. Kamu memberikan segalanya untuk Adrian dengan tulus, jadi jangan mengharapkan timbal baliknya. Don’t blame it on him. Don’t expect anything in return.” ~ Priscilla.

Akhirnya, 3,5 bintang, untuk Remember When, yang begitu saya nikmati proses membacanya, yang saya resapi bagian per bagian, yang membuat saya berpikir ulang tentang kekekalan cinta (bukan energi). Yaaah meskipun Adrian dan Freya tak akan menjadi pasangan favorit saya. Haha ;)

Rabu, 24 Desember 2014

{Review} Refrain : Saat Cinta Selalu Pulang ~ Winna Efendi


Judul : Refrain
Penulis : Winna Efendi
Diterbitkan oleh : Gagas Media
Tahun terbit : 2009
Jumlah halaman : 318 lembar

***
“ “Gak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini,Kak. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.”  “  Acha
***
Nata dan Niki telah bersahabat sejak kecil. Persahabatan kedua mahluk berbeda jenis kelamin ini terus berlanjut hingga mereka menginjak bangku SMU. Niki kini mengikuti ekstrakurikuler cheerleader, ia mulai suka dandan, ia juga mulai mencari pacar. Perubahan Niki itu membuat Nata gerah. Gerah, karena ia teman-teman cowoknya sesekali membicarakan sahabatnya, bahkan salah satu diantaranya naksir sahabatnya itu.
Lalu muncul Annalise, anak model yang sudah terkenal di seluruh dunia, Vidia Rossa, yang suatu hari pindah ke SMU Niki dan Nata. Semua orang mengira Annalise sebagai tipe koleris (yah) yang suka menjadi pusat perhatian, namun siapa kira, meski keluarganya menjadi sorotan publik, Annalise lebih suka menghabiskan waktunya dengan kamera dan buku. Dia begitu pendiam sehingga orang-orang di sekolah menganggapnya sosok yang sombong.
Mereka bertiga akhirnya bersahabat, Annalise tersentuh dengan persahabatan tulus yang ditawarkan oleh Niki yang polos dan ceria, juga Nata yang meskipun tampak cuek, sebenarnya begitu perhatian dengan orang-orang sekitarnya.
Persahabatan mereka beberapa kali diuji. Terkadang dalam persahabatan antara cowok dan cewek timbul rasa suka yang tak bisa dicegah keberadaannya, namun pada akhirnya mereka harus memilih untuk mempertahankan persahabatan mereka, atau perasaan suka yang akhirnya akan menghancurkan persahabatan itu.
***
                Refrain adalah novel remaja karya Winna Efendi yang pertama kubaca. Jujur, saya nggak mengharapkan apa-apa saat membacanya, karena sudah sering dikecewakan oleh novel-novel bergenre teenlit yang isinya acak-acakan (ups) dan lebai (ups lagi). Saya nggak menyangka akan menikmati seluruh bagian dari novel ini. Yang paling aku suka adalah gaya mbak Winna Efendi mendeskripsikan suasana, tempat, maupun perasaan tokoh. Detil, namun tidak lebai, justru terasa elegan. Juga bagaimana obrolan antara tokoh-tokohnya yang mengalir dengan natural. Penulis mampu menggambarkan tokoh-tokohnya dengan baik.
                Saya suka Annalise. Sebab dia mencintai fotografi. Just like me.
“"Aku suka konsep fotografi—seakan-akan momen yang ditangkap lensa akan tetap di sana untuk selamanya."
Dan, mereka memang tetap ada, bahkan saat dunia berputar dan berubah, kenangan yang tercetak pada lembaran foto itu tidak pernah berubah. Photographs last for a lifetime.
"Papa selalu bilang, manusia akan menua, tempat bisa berubah, kita bisa melupakan. Karena itulah kamera digunakan, untuk merekam hal-hal yang tidak dapat diingat manusia dengan sempurna."
Ia mengangkat kamera, menahannya tepat di depan wajah Nata. Nata bergeming, tidak tersenyum dan tidak memintanya untuk berhenti, hingga Annalise menekan tombol shutter.
Klik.’’
                Saya juga tertarik dengan baris ini. Sungguh, saya perlu penjelasan lebih. Mengapa?
                “Mengapa sangat mudah bagi seseorang untuk mengorbankan cinta demi cita-cita? Annalise ingin tahu. Dhanny menatapnya tenang, dan saat itu juga Annalise mengetahui jawabannya. Karena cinta tidak ingin bertahan dalam hati dua orang yang tidak menginginkan hal yang sama. Karena jika salah satunya tidak memiliki ruang yang cukup untuk cinta, maka cinta itu akan beranjak pergi.”
                     Saya suka pernyataan Nata ini. Gue banget haha.
             “Nata tertawa. "Gue bukannya sinis, tapi prinsipil. Gue nggak suka orang yang suka pura-pura, dan gue terbiasa ngomong apa adanya ke semua orang. Kadang, itu disalahartikan sebagai sarkastis."
                    
                Kekurangan dari Refrain ialah, menurut saya tokoh-tokoh di dalamnya terlalu normal. Niki terlalu innocent buat saya. Nata terlalu lurus. Annalise terlalu baik. Hahaha, lupakan bahwa Anda pernah membaca paragraf ini.

                Yang terakhir, novel ini cocok bagi Anda yang ingin membaca sesuatu yang tidak begitu berat, namun manis dan memikat. Dan…ya. Sudah bisa dipastikan saya akan membaca novel-novel karya Winna Efendi yang lainnya.

Selasa, 26 Februari 2013

{Review} Orange Girl

Judul : Orange Girl
Penulis : Jostein Gaarder
Rate : 4/5

 (dari Goodreads, saya lebih suka cover versi luarnya)

Georg berumur 15 tahun ketika menerima surat dari ayahnya yang telah meninggal waktu Georg berumur 4. Ayah Georg yang dahulu telah mengetahui bahwa umurnya sudah tak lama lagi, menulis surat kepada anak lelaki yang entah, mengingatnya atau tidak. Ayah Georg telah mengatur agar surat itu dibaca Georg diwaktu yang tepat.

Momen pembacaan surat itu sangat sakral untuknya, Georg membacanya sendirian, di kamarnya yang terkunci rapat. Tapi ternyata Ayahnya menulis kisah di surat itu, sebuah cerita cinta yang manis bak dongeng, cerita bersama seseorang yang ia panggil Gadis Jeruk.

Gadis Jeruk itu menarik perhatiannya diawal perjumpaan, dengan anorak tua, sekantong penuh jeruk, dan paras eloknya. Kisah Gadis Jeruk itu pun membawa Georg kepada satu pertanyaan penting yang dipaparkan Ayahnya di akhir cerita.

Buku ini adalah salah satu buku yang berpengaruh bagi saya. Jostein Gaarder memasukkan poin-poin filosofi sederhana tapi penuh makna. Membaca Gadis Jeruk, ditemani hujan deras yang mengguyur merupakan suatu pengalaman yang sakral :P. Saya seolah dibawa ke dunia lain, dunia dengan rasa yang biru. Tidak banyak penulis yang bisa mengubah ide simpel menjadi bahan bacaan yang menyegarkan, tapi Mr.Gaarder sukses mewujudkan hal itu.

Karakternya juga cukup loveable. Saya suka Jan Olav, dengan pikiran mbulet nya. Saya tergelak sendiri membaca analisis-analisisnya akan suatu hal. Jan Olav mungkin adalah salah satu dari sedikit orang dewasa yang menggunakan imajinasinya.

Saya juga hampir tertipu dengan identitas asli si Gadis Jeruk. Sukses untuk penulis yang membuat saya masih tercengang dan berpikir, ketika cerita sudah berakhir.