Jumat, 23 Januari 2015

{Review} A Walk To Remember (Kan Kukenang Selalu) ~ Nicholas Sparks

Gambar dari Goodreads.

Judul            :        A Walk To Remember (Kan Kukenang Selalu)
Penulis          :        Nicholas Sparkas
Penerbit        :        Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit  :       2002
Jumlah hal.   :       256 halaman

***
Pada tahun 1958, Beaufort di North Carolina, hidup remaja 17 tahun bernama Landon Carter yang badung. Ia beruntung dilahirkan dalam keluarga yang kaya. Meski orang-orang dalam silsilah keluarganya tidak memiliki reputasi yang baik. Apalagi kakeknya itu, yang selalu disinggung dalam khotbah gereja Hegbert Sullivan, pendeta di Beaufort. Ngomong-ngomong Landon lebih suka memanggil orang itu Hegbert, yang merupakan salah satu sasaran favorit kejahilannya semasa kecil. Gara-gara kakeknya dan kebadungannya (makan kacang di pemakaman bersama teman-temannya sambil mengobrolkan hal-hal aneh yang hanya dibicarakan anak laki-laki), reputasi Landon begitu buruk di mata Hegbert.
Awalnya itu bukan masalah. Penilaian Hegbert mengenai dirinya benar-benar tidak penting bagi Landon hingga akhirnya Landon jatuh cinta pada putri semata wayang Hegbert, Jamie Sullivan.
Jamie Sullivan, yang disukai orang-orang dewasa karena kesopanan dan kebaikan hatinya namun terlalu aneh bagi anak-anak di sekolahnya, entah dengan caranya sendiri membuat Landon mau mengikuti pementasan drama untuk natal. Jamie mampu membuat Landon yang badung itu ikut berpartisipasi dalam pengumpulan dana untuk anak-anak panti asuhan di kota mereka. Jamie membuat Landon mau berhadapan dengan Hegbert dengan penuh tata karma kali ini. Jamie membuat Landon berpikir ulang mengenai hidup dan tingkah lakunya selama ini. Singkatnya Jamie membuat Landon semakin dewasa.
Namun di saat Landon benar-benar mencintai Jamie, bagaimanakah perasaan Jamie terhadap Landon? Akankah cerita mereka direstui Hegbert? Akankah mereka berakhir bahagia?
***
Ini adalah novel karangan Nicholas Sparks yang pertama kali saya baca. Sebetulnya saya agak terlambat mendapatkannya. Pertama kali tahu novel ini dari penggalan-penggalan ceritanya yang tersisip di buku Bahasa Indonesia SMP kelas 7. Saat itu saya masih berumur 11 tahun, yang memungkinkan saya jatuh cinta dengan dialog-dialognya, toh saya masih  terbayang-bayang hingga ‘dewasa’ :p.
A Walk to Remember adalah novel remaja yang bagus untuk dinikmati sebab karakter-karakternya bisa dijadikan panutan layaknya Jamie. Jamie adalah gadis yang percaya diri tanpa polesan make up dan semprotan parfum, penampilannya sederhana. Ia tidak merasa perlu meladeni pendapat orang-orang tentang dirinya dan menghadapi segala sesuatu dengan caranya yang polos nan ajaib. Bahkan saya terkagum-kagum dengan sosoknya, padahal biasanya saya tidak suka karakter yang sangat sempurna. Namun kesempurnaan Jamie ini sebenarnya tampak dari luar saja, dalam beberapa dialognya dengan Landon, pembaca bisa mengetahui bahwa Jamie juga punya ketakutan, rasa sakit, bahkan terkadang Jamie ditampilkan sebagai wanita yang cerdik meski tetap polos dan anggun. Pembawaannya yang polos dan ceria itu sungguh seperti malaikat. Apalagi Jamie digambarkan sebagai gadis yang cukup religius.
Selain Jamie, saya juga suka tokoh Hegbert alias ayah Jamie. Di balik sikapnya pada Landon yang sedikit menyebalkan, bisa dibilang Hegbert ini adalah tokoh ayah idaman. Tidak sempurna, tapi penuh kasih sayang dan perlindungan. ^^
Perubahan sikap Landon pun terasa natural. Segalanya dibawakan dengan baik oleh penulis. Alurnya tidak bertele-tele, saya kesulitan mencari kekurangan dalam novel ini, selain ending-nya mungkin yang menurut saya bisa dieksekusi dengan lebih baik lagi. Karena seperti dalam prolog Landon, saya pun tersenyum saat mengawali membaca kisahnya, namun saya gagal menangis di akhir cerita. Dan saya tahu kenapa. Mungkin karena saya sudah 17 tahun dan kebal terhadap segala sesuatu yang mengharu biru.

3,5 bintang untuk Jamie Sullivan! 

Kamis, 22 Januari 2015

First Chapters Commentator "Ally : All These Lives"~Arleen A


Cerita dimulai dengan tragedi. Ally berusai 10 tahun saat pertama kali mengalami sebuah kejadian yang ia sebut Saat Ketidakberadaan. Ally yang merupakan anak tunggal sedang duduk di dapur saat itu, menunggui Mama yang sedang memasak kue kering cokelat, ketika ada sensasi gelitik yang aneh pada lengan dan wajahnya. Kemudian dunia menghilang, termasuk dirinya sendiri, tidak bisa melihat apa-apa, bahkan tidak ada kegelapan. Yang ada hanya pikiran Ally beserta kesadarannya. Ketika dunia kembali dalam hadapannya, dia sedang berada di tempat yang sama, duduk di dapur, menunggui Mama. Tapi kali ini tidak ada kue kering coklat beserta aromanya, melainkan sup tomat dan makaroni. Dan, di sebelahnya duduk anak laki-laki berambut merah bernama Albert yang kata Mama merupakan adiknya. Tentu fakta ini mengejutkan Ally, dalam pikirannya ia merupakan anak tunggal. Karena tidak adanya penjelasan dan jawaban yang memuaskan dari psikiater, orangtua Ally mulai menerima bahwa Ally lupa segala hal tentang adiknya.

“Namun bagaimana aku bisa melupakan sesuatu yang tadinya tidak ada sama sekali?” ~ hal 10.
         
          Ally memilih melanjutkan hidupnya dan menerima fakta bahwa ia memiliki Albert. Lagipula siapa yang dapat menolak Albert? Anak laki-laki berambut merah dengan senyum manis yang lebar. Tidak ada kakak yang dapat menolak Albert. Pun Ally, meski ia tidak dapat mengingat 5 tahun pertama kebersamaannya dengan Albert.
          Lalu Ketidakberadaan menimpa Ally lagi, yang saat itu duduk di bangku SMA. Apabila dahulu Ketidakberadaan menghadirkan Albert dalam hidupnya, kali ini ia merenggut Albert darinya. Nyatanya Albert sudah meninggal. Entah kapan dan bagaimana Ally tak mampu mengingatnya. Kali ini benak Ally terguncang, atas Saat Ketidakberadaan-nya yang menghadirkan dan merenggut seseorang dalam hidup Ally seenaknya.  

***

          Saya sangat, sangat antusias dengan novel karya Arleen A ini. Biasanya saya berusaha untuk mengosongkan ‘cangkir’ saya sebelum membaca, membersihkannya dari ekspetasi-ekspetasi dan penilaian apapun. Dengan begitu, saya bisa menerima apa yang ditawarkan penulis dalam karyanya dengan baik.
          Saya remaja berusia 17 tahun, dan untuk alasan itu, bacaan ini cocok untuk saya. Saya pikir tidak ada yang lebih baik daripada penilaian sebuah novel remaja dari kaum remaja itu sendiri. Kami remaja bosan dengan novel percintaan yang selalu berakhir bahagia, kami punya selera. Remaja juga memiliki mimpi dan kecemasan tentang kewarasan diri mereka sendiri.
Selama beberapa tahun pengalaman saya membaca, saya belum pernah menemui novel remaja dengan tema thriller psikologi (Saya dengan entengnya menyimpulkan bahwa ini adalah novel bergenre thriller psikologi ---__---). Saya pernah membaca novel “In The Miso Soup” karya Murakami. Kebanyakan novel thriller psikologi menggunakan hal-hal di luar pikiran tokoh utama untuk menciptakan efek terguncang. Namun berbeda dengan Ally : All These Lives ini.
Di halaman pertama, pembaca disuguhi dengan tragedy, yang merupakan langkah efektif untuk membuat pembaca penasaran dengan jalan cerita selanjutnya. Selama proses membaca selanjutnya, saya menikmati kata-kata yang diuntai oleh penulis dengan sederhana namun manis. Entah bagaimana, di beberapa titik saya merasa kehidupan Ally begitu sedih. Karakter Ally sebagai remaja sederhana dengan keluarga biasa membuat pembaca bisa dengan mudah memposisikan dirinya di posisi Ally, juga merasakan emosi-emosi Ally.
Latar cerita yang mengambil setting yang tidak nyata atau berdasar rekaan penulis juga turut membangun suasana yang dingin. Seperti, kehidupan Ally memiliki temboknya tersendiri, Ally hidup di dunianya sendiri nun jauh di sana. Namun dengan cara yang sama, seperti deskripsi tentang aroma kue coklat kering dan sup tomat membuat kehidupannya terasa dekat, intim.
Lalu bab 2 berakhir, saya terpaku di depan layar laptop. Cerita Ally tidak berhenti sampai di sini, saya berpikir. Terbayang-bayang, bagaimana kehidupan Ally selanjutnya? Apakah sebenarnya sesuatu yang ia sebut Saat Ketidakberadaan itu? Kenapa dan bagaimana Albert mati? Apakah Ally bisa hidup normal?  
Kebingungan, kesedihan Ally saat kehilangan Albert, bercampur teka-teki akan apa yang terjadi pada dirinya itu menghantui saya. Saya sempat berasumsi bahwa Ally mungkin menderita skizofernia, tapi saya kira itu tidak mungkin, sebab ia tidak kehilangan 5 tahun kehidupannya. Ia hanya lupa tentang Albert. Kemudian saya menebak kemungkinan Ally mengalami semacam trauma untuk hal-hal yang baru, namun lagi-lagi asumsi itu tidak memuaskan saya. Saya butuh membaca lanjutan kisah Ally, saya butuh mengetahui apa yang terjadi padanya, apakah Saat Ketidakberadaan itu. Saya butuh menyelesaikan kisah yang telah membuka rasa penasaran saya.
         Saya butuh. Benar-benar butuh. Apa perlu saya tekankan lagi? *Hehehe. 

***

Rabu, 07 Januari 2015

{Review} If I Stay ~ Gayle Forman


Lebih suka cover atas hehe :p


Judul : If I Stay
Penulis : Gayle Forman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2011
ISBN : 9789792266603
Jumlah halaman : 200 halaman

***

Saya pernah membayangkan tentang kematian. Semua orang pasti pernah. Mia Hall, gadis berusia 17 tahun (sama kayak aku hoho) pun pasti pernah. Tapi, pernahkah kau memikirkan apa yang akan kau lakukan apabila kau berada begitu dekat dengan kematian?
Mari melihat dengan lebih dekat.
Hidup Mia Hall tidak sempurna. Tapi dia punya Mum dan Dad, lalu adik kecilnya, Teddy yang selalu ada di sampingnya dan mendukung kecintaannya pada dunia musik. Mia memiliki Kim, sahabat karibnya yang bercita-cita sebagai fotografer. Terlepas dari konyolnya hal-hal yang mereka alami sebelum keduanya bersahabat, Kim selalu ada untuk Mia. Mereka memiliki satu sama lain. Berbeda, namun saling melengkapi. Lalu Adam, pacarnya yang main di band Shooting Star, yang mengenalkan warna-warna baru dalam hidup Mia.
Justru di saat ia hendak mengejar mimpinya, bersekolah di universitas musik terkenal di New York, satu insiden menyakitkan harus memutus impiannya itu. Mia dan keluarganya mengalami kecelakaan mobil di satu hari bersalju. Mum, Dad, dan Teddy meninggal dalam kecelakaan itu, kecuali Mia. Dia tidak benar-benar mati tapi juga tidak hidup, arwahnya melayang-layang di luar tubuhnya yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Seperti koma, begitulah.
Di saat dirinya menjadi satu-satunya yang tersisa dari keluarganya, Mia Arwah ini menyaksikan keluarganya : Gran dan Gramps, bibi, paman, sahabatnya Kim, serta pacarnya Adam bersedih menantinya kembali sadar. Orang-orang terdekatnya meminta Mia untuk tinggal, tetap berjuang, hidup, meski itu artinya Mia harus menjadi yatim piatu. Tapi bahkan Mia tidak tahu caranya untuk kembali bersatu dengan raganya. Kilasan-kilasan momen yang pernah Mia alami akhirnya muncul, dan momen-momen itu melibatkan orang-orang terdekatnya. Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit, untuk tetap tinggal atau pergi.
Pilihan. Kadang kau harus memilih. Termasuk Mia ini. Tapi bagaimana bila pilihanlah yang memilih Mia?
***
Sudah sejak lama saya tahu novel If I Stay ini baik dari Goodreads maupun dari blogger buku. Rata-rata mereka terharu dan sampai menangis membaca novel ini. Tapi entah bagaimana, kisah Mia ini tidak membuat saya tersentuh.
Di awal cerita, digambarkan keluarga Mia yang sempurna, Mia yang mahir bermain cello, Mia tipe gadis yang tidak populer di sekolah namun punya sahabat, Mia yang berpacaran dengan Adam yang juga punya talenta musik yang luar biasa juga.
Kehidupan Mia mulus, sempurna. Menurut saya. Dan saya kira, remaja-remaja 17 tahun lainnya akan menemukan kemiripan antara Mia dengan dirinya. Dengan kata lain, karakter Mia ini bisa ditemukan di kehidupan nyata (meskipun tidak dengan pacarnya). Dan penokohan Mia ini yang saya sukai dari novel ini. Innocent.
Tapi tetap ada hal-hal yang too good to be true seperti keluarganya yang sempurna ini lalu pacar yang sempurna juga. Entahlah :/ Im speechless. Sulit mengungkapkan mengapa saya tidak terlalu menyukai novel ini. Terlalu datar? Terlalu sempurna?
Meski gaya menulis Gayle Forman ini halus dan nikmat untuk dinikmati hingga kesetiap bagian-bagian terkecilnya. Alur Flashback yang digunakan berhasil, dengan begini setelah menye-menye membaca adegan di rumah sakit, pembaca disuguhi momen-momen manis dalam hidup Mia. Penulis juga berhasil membangun keluarga yang harmonis (hangat) dalam ceritanya.

Tentu, saya akan tetap membaca Where She Went. Tapi entah kapan (soalnya punya Where She Went yang bahasa inggris aja -_-). Tapi tetap saja, karena novel ini curang pada saya (dengan membuat orang lain menikmatinya hingga jatuh air mata, tapi tidak untuk saya), saya beri 3,5/5 bintang untuk Mia dan Adam, pasangan idaman! :p

***
Quotes yang kuambil dari Goodreads.
“Sometimes you make choices in life and sometimes choices make you.” 
“I realize now that dying is easy. Living is hard.” 

Jumat, 26 Desember 2014

{Review} Remember When ~ Winna Efendi


Judul : Remember When : Ketika Kau dan Aku Jatuh Cinta
Penulis : Winna Efendi
Tahun terbit : 2011
Penerbit : Gagas Media
Jumlah halaman : 260 halaman
***
Moses, Ketua OSIS yang nilai rapornya selalu sempurna, bersahabat dengan Adrian, si jago basket yang menjadi idola di sekolah. Persahabatan tidak memilih, ia hanya ada bagi orang-orang yang menghendakinya dan mau mempertahankannya. Contohnya seperti persahabatan Moses dan Adrian, karakter keduanya saling bertolak belakang, namun saling melengkapi.
          Lalu ada Anggia, si cantik yang cukup terkenal di sekolah, yang jago melukis sekaligus disukai banyak cowok. Juga Freya, tipikal kutu buku yang pendiam, yang nilainya mendekati sempurna, yahhh meskipun tidak sesempurna nilai Moses.
          Keempat manusia (cie) itu dipertemukan dalam satu cerita, ketika Moses jatuh cinta pada Freya, Adrian jatuh cinta pada Anggia. Di kelas 1 SMU, Moses dan Adrian mengutarakan perasaan masing-masing, dan…diterima!
          Hubungan keempatnya biasa-biasa saja, mereka sering double date : nongkrong bareng, nonton di bioskop bareng, sampai belajar bareng. Sampai konflik muncul ketika Freya, yang lebih suka memendam perasaan itu merasa tidak puas dengan hubungannya, yang datar-datar saja nyaris tanpa konflik. Ia ingin hubungan seperti Anggia dan Adrian, yang waktu itu jadi favorite couple di sekolah, meledak-ledak, penuh warna. Bukankah cinta selalu seperti itu? pikir Freya saat itu.
          Konflik demi konflik muncul hingga masing-masing dari mereka terluka. Hingga tiba suatu saat ketika masing-masing dari mereka harus memilih : untuk jujur kepada diri sendiri dan dunia, atau berbohong selamanya. Cinta tidak harus memiliki, jujur seringkali membuat banyak pihak tersakiti, namun untuk mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya, yang tanpa pura-pura, seringkali membutuhkan pengorbanan. Kamu hanya perlu memaafkan dan berdamai dengan dirimu sendiri.
***
          Well written, seperti novel Refrain yang sebelumnya saya baca. Hanya saja novel Remember When ini banyak memunculkan ketidaksetujuan dalam diri saya.
          Satu. Saya agak kesal dengan Freya. Kenapa? Karena dia jatuh cinta pada pacar sahabatnya sendiri. Itu masih bisa ditolerir. Tapi melakukan hal-hal yang membuat pacar sahabatmu jatuh cinta padamu itu tidak bisa ditolerir. Menerima seseorang sebagai pacar hanya karena dia baik, bukan karena cinta, itu tidak bisa ditolerir. Yah, meski dia tidak sengaja, mungkin. Tetap saja ada, Freya sedikit menyebalkan.
          Tapi ada satu scene yang saya suka. Yakni, saat Freya dipaksa Anggia untuk potong rambut. Dan…tebak apa gaya rambutnya? Pixie cut! Hell yeah, I envy everyone who has that haircut.
         
 “Aku menatap wajahku sendiri di cermin. Perubahan yang sangat besar. Wajahku yang tirus dengan garis wajah tegas semakin diperjelas dengan potongan rambut pendek. Poni yang biasa kubiarkan menutupi separuh wajah dipangkas pendek, kini menjuntai tipis menutupi dahiku yang lebar. Warna merah gelap juga kontras dengan kulitku yang putih. Aku terlihat seperti makhluk asing. Seseorang yang tidak kukenali. Ini bukan perubahan kecil. Ini salah satu perubahan terbesar dalam hidupku.”~Freya POV
         
 Nggak penting juga sih, but once I had a boyish haircut, not a pixie haircut. And definitely that paragraph describe my feeling when I look for my new haircut in a mirror.

“Hanya ada satu syarat agar bisa populer di sekolah, dan syarat itu adalah: EKSIS.”~Anggia.

Saya akhirnya mengerti kenapa karakter-karakter dalam novel karya Winna Efendi selalu menarik hati saya. Winna Efendi selalu menaruh karakter yang punya passion. Annalise dengan passion terhadap fotografi, Niki dengan musik, dan Anggia dengan seni lukis. Bagi seorang penikmat musik, penggemar fotografi, dan suka menggambar seperti saya, karakter-karakter seperti itu menarik sekali. Karena beberapa kali ada deskripsi khusus mengenai passion-passion itu, yang membuat saya “Wah, gue banget” sehabis membaca bagian-bagian tersebut.
Winna Efendi rupanya gemar mengangkat tema persahabatan ya? Dan gaya penulisannya bagus sekali. segalanya terasa natural, persahabatan Moses dan Adrian sejak kecil. Hingga persahabatan seseorang yang berbeda karakter seperti Anggia dan Freya. Meskipun di dunia nyata persahabatan seperti itu jarang ditemui, ya.   

“When you make decisions, you deal with consequences. Kamu memberikan segalanya untuk Adrian dengan tulus, jadi jangan mengharapkan timbal baliknya. Don’t blame it on him. Don’t expect anything in return.” ~ Priscilla.

Akhirnya, 3,5 bintang, untuk Remember When, yang begitu saya nikmati proses membacanya, yang saya resapi bagian per bagian, yang membuat saya berpikir ulang tentang kekekalan cinta (bukan energi). Yaaah meskipun Adrian dan Freya tak akan menjadi pasangan favorit saya. Haha ;)

Rabu, 24 Desember 2014

{Review} Refrain : Saat Cinta Selalu Pulang ~ Winna Efendi


Judul : Refrain
Penulis : Winna Efendi
Diterbitkan oleh : Gagas Media
Tahun terbit : 2009
Jumlah halaman : 318 lembar

***
“Gak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini,Kak. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.”  “  Acha
***
Nata dan Niki telah bersahabat sejak kecil. Persahabatan kedua mahluk berbeda jenis kelamin ini terus berlanjut hingga mereka menginjak bangku SMU. Niki kini mengikuti ekstrakurikuler cheerleader, ia mulai suka dandan, ia juga mulai mencari pacar. Perubahan Niki itu membuat Nata gerah. Gerah, karena ia teman-teman cowoknya sesekali membicarakan sahabatnya, bahkan salah satu diantaranya naksir sahabatnya itu.
Lalu muncul Annalise, anak model yang sudah terkenal di seluruh dunia, Vidia Rossa, yang suatu hari pindah ke SMU Niki dan Nata. Semua orang mengira Annalise sebagai tipe koleris (yah) yang suka menjadi pusat perhatian, namun siapa kira, meski keluarganya menjadi sorotan publik, Annalise lebih suka menghabiskan waktunya dengan kamera dan buku. Dia begitu pendiam sehingga orang-orang di sekolah menganggapnya sosok yang sombong.
Mereka bertiga akhirnya bersahabat, Annalise tersentuh dengan persahabatan tulus yang ditawarkan oleh Niki yang polos dan ceria, juga Nata yang meskipun tampak cuek, sebenarnya begitu perhatian dengan orang-orang sekitarnya.
Persahabatan mereka beberapa kali diuji. Terkadang dalam persahabatan antara cowok dan cewek timbul rasa suka yang tak bisa dicegah keberadaannya, namun pada akhirnya mereka harus memilih untuk mempertahankan persahabatan mereka, atau perasaan suka yang akhirnya akan menghancurkan persahabatan itu.
***
                Refrain adalah novel remaja karya Winna Efendi yang pertama kubaca. Jujur, saya nggak mengharapkan apa-apa saat membacanya, karena sudah sering dikecewakan oleh novel-novel bergenre teenlit yang isinya acak-acakan (ups) dan lebai (ups lagi). Saya nggak menyangka akan menikmati seluruh bagian dari novel ini. Yang paling aku suka adalah gaya mbak Winna Efendi mendeskripsikan suasana, tempat, maupun perasaan tokoh. Detil, namun tidak lebai, justru terasa elegan. Juga bagaimana obrolan antara tokoh-tokohnya yang mengalir dengan natural. Penulis mampu menggambarkan tokoh-tokohnya dengan baik.
                Saya suka Annalise. Sebab dia mencintai fotografi. Just like me.
"Aku suka konsep fotografi—seakan-akan momen yang ditangkap lensa akan tetap di sana untuk selamanya."
Dan, mereka memang tetap ada, bahkan saat dunia berputar dan berubah, kenangan yang tercetak pada lembaran foto itu tidak pernah berubah. Photographs last for a lifetime.
"Papa selalu bilang, manusia akan menua, tempat bisa berubah, kita bisa melupakan. Karena itulah kamera digunakan, untuk merekam hal-hal yang tidak dapat diingat manusia dengan sempurna."
Ia mengangkat kamera, menahannya tepat di depan wajah Nata. Nata bergeming, tidak tersenyum dan tidak memintanya untuk berhenti, hingga Annalise menekan tombol shutter.
Klik.’’
                Saya juga tertarik dengan baris ini. Sungguh, saya perlu penjelasan lebih. Mengapa?
                Mengapa sangat mudah bagi seseorang untuk mengorbankan cinta demi cita-cita? Annalise ingin tahu. Dhanny menatapnya tenang, dan saat itu juga Annalise mengetahui jawabannya. Karena cinta tidak ingin bertahan dalam hati dua orang yang tidak menginginkan hal yang sama. Karena jika salah satunya tidak memiliki ruang yang cukup untuk cinta, maka cinta itu akan beranjak pergi.
                     Saya suka pernyataan Nata ini. Gue banget haha.
             “Nata tertawa. "Gue bukannya sinis, tapi prinsipil. Gue nggak suka orang yang suka pura-pura, dan gue terbiasa ngomong apa adanya ke semua orang. Kadang, itu disalahartikan sebagai sarkastis."
                    
                Kekurangan dari Refrain ialah, menurut saya tokoh-tokoh di dalamnya terlalu normal. Niki terlalu innocent buat saya. Nata terlalu lurus. Annalise terlalu baik. Hahaha, lupakan bahwa Anda pernah membaca paragraf ini.

                Yang terakhir, novel ini cocok bagi Anda yang ingin membaca sesuatu yang tidak begitu berat, namun manis dan memikat. Dan…ya. Sudah bisa dipastikan saya akan membaca novel-novel karya Winna Efendi yang lainnya.

Selasa, 26 Februari 2013

{Review} Orange Girl

Judul : Orange Girl
Penulis : Jostein Gaarder
Rate : 4/5

 (dari Goodreads, saya lebih suka cover versi luarnya)

Georg berumur 15 tahun ketika menerima surat dari ayahnya yang telah meninggal waktu Georg berumur 4. Ayah Georg yang dahulu telah mengetahui bahwa umurnya sudah tak lama lagi, menulis surat kepada anak lelaki yang entah, mengingatnya atau tidak. Ayah Georg telah mengatur agar surat itu dibaca Georg diwaktu yang tepat.

Momen pembacaan surat itu sangat sakral untuknya, Georg membacanya sendirian, di kamarnya yang terkunci rapat. Tapi ternyata Ayahnya menulis kisah di surat itu, sebuah cerita cinta yang manis bak dongeng, cerita bersama seseorang yang ia panggil Gadis Jeruk.

Gadis Jeruk itu menarik perhatiannya diawal perjumpaan, dengan anorak tua, sekantong penuh jeruk, dan paras eloknya. Kisah Gadis Jeruk itu pun membawa Georg kepada satu pertanyaan penting yang dipaparkan Ayahnya di akhir cerita.

Buku ini adalah salah satu buku yang berpengaruh bagi saya. Jostein Gaarder memasukkan poin-poin filosofi sederhana tapi penuh makna. Membaca Gadis Jeruk, ditemani hujan deras yang mengguyur merupakan suatu pengalaman yang sakral :P. Saya seolah dibawa ke dunia lain, dunia dengan rasa yang biru. Tidak banyak penulis yang bisa mengubah ide simpel menjadi bahan bacaan yang menyegarkan, tapi Mr.Gaarder sukses mewujudkan hal itu.

Karakternya juga cukup loveable. Saya suka Jan Olav, dengan pikiran mbulet nya. Saya tergelak sendiri membaca analisis-analisisnya akan suatu hal. Jan Olav mungkin adalah salah satu dari sedikit orang dewasa yang menggunakan imajinasinya.

Saya juga hampir tertipu dengan identitas asli si Gadis Jeruk. Sukses untuk penulis yang membuat saya masih tercengang dan berpikir, ketika cerita sudah berakhir.

Jumat, 04 Februari 2011

Deeper (Petualangan Maut Menuju Pusat Bumi)

(Lanjutan buku Tunnels)
Gordon dan William
Mizan Fantasi


Will dan Chester semakin dalam menuju inti bumi, dengan misi menemukan ayah Will, Dr. Burrow yang menghilang dan diduga pergi ke bawah tanah untuk melakukan penelitian terbesarnya, penelitian yang ia rahasiakan dari Will.
Dan…tebak apa yang mereka temukan?!
Koloni bawah tanah! Ya, ternyata ada semacam kelompok manusia yang tinggal di sana, membentuk pemukiman dan pemerintahan sendiri, dan satu lagi, mereka membenci topsoilers sebutan mereka untuk manusia – manusia yang tinggal di bawah sinar mentari karena dianggap sebagai perusak saja.
Ada banyak hal yang mereka lalui, kehilangan orang yang mereka sayangi, menemukan teman sejati, pertengkaran dengan sahabat, penghianatan, dan masih banyak lagi. Lanjutan dari novel fantasi Tunnels yang berkisah petualangan mendebarkan, seru, dan penuh tantangan!